GEOSPASIAL #Edisi 4

Tema: “Candaan yang Melampaui Batas Syariat”

Candaan adalah bagian dari kehidupan sehari-hari yang dapat menghadirkan tawa, keakraban, dan suasana santai. Namun, dalam Islam, canda pun memiliki batasan syariat yang tidak boleh dilampaui. Rasulullah ﷺ telah memberikan teladan bagaimana bercanda yang baik, penuh hikmah, dan tidak menyakiti hati orang lain.

📖 Hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.”
(HR. Bukhari no. 6018; Muslim no.47)

Hadits ini menegaskan bahwa setiap ucapan harus mengandung kebaikan. Jika tidak, diam lebih utama. Terlebih dalam bercanda—ketika tawa justru melukai, merendahkan, atau menghina—maka saat itu canda menjadi bumerang yang merusak nilai iman.

🗣️ Contoh candaan Rasulullah ﷺ
Diriwayatkan oleh Anas radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ pernah berkata:

“Wahai, pemilik dua telinga!”
(HR. Ahmad, Abu Dawud, dan at-Tirmidzi)

Sebuah canda yang ringan, lucu, dan tidak menyinggung. Candaan Rasulullah ﷺ tidak pernah keluar dari batas kesopanan dan justru menguatkan ikatan hati.

💬 Pelajaran Penting:

  • Setiap kata yang terucap akan dimintai pertanggungjawaban.
  • Bercanda tidak boleh mengandung unsur hinaan, kebohongan, atau menyakiti perasaan.
  • Lisan adalah cerminan keimanan—gunakan untuk mendoakan, memotivasi, dan menyebarkan kebaikan.

Mari menjadi pribadi yang bijak dalam berbicara, bahkan saat bercanda sekalipun.

📚 Sumber:
Muslimah.or.id – Candaan yang Melampaui Batas Syariat

Present By :

Bidang Kerohanian Islam

HMGF FMIPA Unhas
HMGF FMIPA Unhas
Articles: 142